"Karena untuk membangun sebuah warung di Bukit Bintang membutuhkan biaya yang tidak sedikit bahkan bisa 2 hingga 3 kali dibanding membangun rumah biasa. Struktur bangunan harus kuat karena berada di tebing yang curam dan terjal," ujar dia.
Sehari-hari, lelaki ini memang dituakan untuk mengurus parkir di kawasan Bukit Bintang. Belasan pemuda terlibat dalam pengelolaan parkir di samping ada pemilik warung.
Bukit Bintang mulai banyak digunakan untuk berjualan pascagempa 2006 yang lalu. Kini sudah ada 40 warung besar dan kecil yang berdiri di Bukit Bintang.
"Dan agar tetap ramai kami tidak menerapkan tarif masuk. Hanya membayar biaya parkir saja," ujarnya