Selain itu, dia juga meminta kepada siapapun untuk tidak takut atau panik. Di saat yang sama warga juga harus mematuhi radius aman 3 km dari puncak Merapi.
Sejak dilaporkan terjadi penggembungan, belum ada perubahan status bahaya atau potensi terjadi bencana. Namun, pemerintah daerah Sleman sudah merancang ulang langkah mitigasi bencana yang sesuai dengan protokol kesehatan Covid-19.
Asih mengatakan saat ini masyarakat punya inisiatif lebih tinggi. Ketika muncul gejala vulkanis seperti asap atau getaran dari arah Merapi, warga tak perlu menunggu komando untuk menyelamatkan diri. Masyarakat juga terbantu oleh wawasan lokal tentang pengamatan arah letusan.
“Kalau semisal dilihat dari sini arah anginnya ke barat, utara, atau timur itu artinya aman. Nah, kalau arahnya ke selatan, masyarakat pun juga gak perlu terlalu panik. Masyarakat yang penting tenang dulu terus pelan-pelan menjauhi bahaya,” katanya.
Meski begitu, diakui letusan hebat pada tahun 2010 menghasilkan trauma yang begitu mendalam bagi sebagian warga. Akibatnya, ada juga warga yang lari begitu mendengar suara dentuman dari puncak Merapi.