Dalam banyak kasus, benteng-benteng itu bahkan ditinggalkan sebelum digunakan. Beberapa dihancurkan sendiri oleh rakyat karena mudah dibakar atau rapuh.
Dikutip dari buku Sejarah Nasional Indonesia IV, bangunan benteng ini menjadi beban finansial besar bagi Belanda. Infrastruktur jalan yang buruk dan logistik yang kacau membuat stelsel De Kock tidak berjalan efektif.
Benteng-benteng yang dibangun dengan bahan seadanya menjadi sasaran empuk serangan rakyat. Keunggulan medan dan taktik perlawanan membuat Belanda frustasi.
Sebaliknya, pasukan Diponegoro mampu menguasai logistik dan medan tempur berkat dukungan rakyat dan kondisi alam.
Pada tahun 1828-1829, Mataram menjadi pusat pertempuran sengit. Setelah keluar dari Pajang, Diponegoro mengonsentrasikan kekuatannya di wilayah tepi barat Sungai Progo dan timur Sungai Bogowonto.