Begini Kisah Budaya Keraton Yogyakarta, Ternyata Banyak Kesamaan dengan Solo

erfan erlin
Kisah Budaya Keraton Yogyakarta menarik untuk dicermati. Budaya Keraton Yogya ternyata memilik banyak kesamaan dengan Keraton Solo. (Foto Ilustrasi : ist

Saat perjanjian Giyanti selesai, Panembahan Senopati ing Ngalogo meminjam tempat di Ambarketawang Godean untuk tinggal. Tempat tersebut sebenarnya transit jenasah dari Pakubuwono sebelum dimakamkan di makam raja Imogiri.

Saat itu, Panembahan Senopati Ing Ngalogo atau Sri Sultan HB I meminjam tempat di sana untuk melakukan kontempelasi atau bersemedi. Dia menginginkan hal yang sama yaitu  Sangkan Paraning Dumadi.

"Saat itu beliau pasrah dan berdoa lahir batin untuk menemukan arah yang sama untuk menentukan titik pembangunan keraton Yogyakarta,"ujar dia.

Salah satu prosesi budaya di Panti Pareden, Magangan, Keraton Yogyakarta. (Foto Foto : Dok SINDOnews)

Hingga ketemulah arah pantai selatan sampai Merapi. Tinggal titiknya yang ditentukan, dan titik tersebut ada sebuah dusun kecil yang memiliki sumber mata air, Umbul Pacetokan. Panembahan Senopati merasa ini satu garis yang lurus Utara Selatan. 

"Maka dibangunlah keraton. Bangunan pertama yang dibangun adalah bangsal Kencono atau pagelaran,"terangnya.

Kemudian tanggal 13 Maret 1755 Kasultanan Yogyakarta resmi memproklamasikan diri. Di tanggal tersebut Hadeging Nagari Ngayogyakarto Hadiningrat dikumandangkan. Selanjutnya, Sri Sultan HB I memulai pembangunan Keraton Yogyakarta. 

Tepatnya tanggal 9 Oktober 1755, proses pembangunan Keraton Yogyakarta dimulai. Dan dalam kurun waktu 1 tahun, proses pembangunan Keraton dapat diselesaikan. Dan selama proses pembangunan keraton tersebut, Keluarga Sri Sultan HB I tinggal di Pesanggrahan Ambar Ketawang.

"Beliau Sri Sultan HB I masuk ke Keraton Yogyakarta memasuki Keraton pada kemis Pahing tanggal 13 Suro 1682 atau tanggal 7 Oktober 1756. Peristiwa ini ditandai dengan sengkalan memet Dwi Naga Rasa Tunggal dan Dwi Naga Rasa Wani," ujar dia.

Bebarengan pembangunan Keraton itulah pihak Belanda juga membangun benteng Vredeburg. Benteng ini dibangun untuk mengawasi kegiatan Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat. Sehingga Vrederburg didirikan berhadap-hadapan dengan Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat.

Setelah Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat berdiri, kemudian ada negosiasi dengan Pakubuwonon III. Negosiasi tersebut berkaitan dengan pembagian kuliner, budaya, seni tradisi dan juga pakaian. Hal tersebut dilakukan untuk memperjelas perjanjian Giyanti.

Editor : Ainun Najib
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Keraton Yogya Berduka, Bagas Korban Tewas saat Glamping Ternyata Fotografer Tundha Yekti

57 tahun lalu

Sekeluarga Tewas di Temanggung, 1 Korban Mahasiswa UGM dan Fotografer Keraton Yogya

57 tahun lalu

Sambut Human Origin Heritage, Wali Kota Robby Promosikan Budaya Salatiga ke Mancanegara

57 tahun lalu

2 Kubu Keraton Solo Gelar Halalbihalal Terpisah di Waktu Bersamaan

57 tahun lalu

Rute Kirab Penobatan Raja Baru Keraton Solo, Gusti Purbaya Dilantik Jadi Pakubuwono XIV

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal