Bayi Berat Lahir Rendah Berisiko Kena Diabetes dan Hipertensi

Kuntadi
Bayi lahir dengan berat bdan rendah rentan alami hipertensi dan diabetes. (Foto: Ilustrasi/Ist)

YOGYAKARTA, iNews.id – Bayi yang lahir dengan berat badan rendah memiliki risiko metabolik yang lebih besar pada masa dewasa. Beberapa gangguan metabolisme ini, seperti penyakit hipertensi, diabetes  hingga hiperlipidemia.

Dari hasil studi epidemiologi terdapat hubungan antara perubahan epigenetik pada awal kehidupan dan penyakit tidak menular di kemudian hari. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi pengaruh perubahan epigenetik dan asupan nutrisi sejak dini, kehidupan sejak prenatal selama enam bulan pada bayi berat badan lahir rendah.

“Kurang gizi di kehamilan dini berkorelasi dengan berat badan lahir rendah dan risiko obesitas di masa dewasa. Sementara kekurangan gizi pada akhir kehamilan mengurangi toleransi glukosa di tahun-tahun berikutnya,” kata Mahasiswa S3 Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, dr Neti Nurani,M.Kes., Sp.A (K) dalam ujian terbuka promosi doktor di Rabu (2/3/2022).

Dalam disertasinya berjudul The Effect Global DNA Methylation Status at Birth and Early Life Nutrition on the growth and Nutrition Status of Low Birth Weight Infant, Nety mengemukakan, dibandingkan dengan bayi berat lahir normal, bayi berat lahir rendah ditemukan berisiko lebih tinggi mengalami gangguan metabolisme di masa dewasa mereka. Meliputi hipertensi, diabetes tipe I, diabetes tipe II, dan hiperlipidemia.

Kesimpulan ini diperoleh dari hasil penelitianny terhadap 53 bayi berat lahir rendah dan 41 bayi berat normal dan ibunya di Maternal-Perinatal Instalasi di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta dan beberapa RS swasta di DIY, pada Januari 2018 sampai Juni 2019. Hasilnya terdapat perbedaan bermakna status metilasi DNA global pada lahir dengan prematur dan cukup bulan dan bayi berat normal. 

“Status metilasi DNA global saat lahir tidak mempengaruhi laju pertumbuhan dan status gizi pada enam bulan. Karbohidrat dan tingkat energi ASI pada 1-2 bulan mempengaruhi laju pertumbuhan dan status gizi pada bayi prematur dan bayi berat normal,” katanya.

Editor : Kuntadi Kuntadi
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Pria Obesitas Seberat 200 Kg di Kuningan Meninggal, Damkar Turun Tangan Bantu Pemakaman

57 tahun lalu

Cerita IRT Obesitas di Parepare Berbobot 200 Kg, Sulit Berdiri Hanya Bisa Ngesot

57 tahun lalu

60 Polisi Gendut di Trenggalek Jalani Program Penurunan Berat Badan, Ini Penampakannya

57 tahun lalu

Jenazah Romo Benny Diterbangkan ke Jatim, Disemayamkan di Yayasan Gotong Royong Malang

57 tahun lalu

Alasan Bapak Kos Makan Kucing di Semarang: Enak, Daging Hewan Lain Mahal

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal