Tafsir Maqashidi tetap menjaga wilayah yang bersifat sakral, dalam soal ibadah mahdlah, hirarkhi nilai obligatory, seperti soal salat, dengan tetap memahami asrar (rahasia) dan hikmahnya.
Namun di sisi lain, Tafsir Maqashidi juga kreatif-inovatif dalam mengembangkan wilayah keagamaan yang bersifat berubah terkait dengan isu-isu sosial politik kemanusian yang dihadapi masyarakat modern dewasa ini. Namun tetap berpegang pada kaedah umum maqashid.
Menurut Abdul Mustaqim, diperlukan perjuangan untuk membela nilai-nilai humanisme dalam konteks ke-Islaman. Seperti fenomena sebagian orang yang begitu semangat untuk melakukan penggerebekan warung-warung makan dan restoran di siang bulan Ramadan.
Kelompok tersebut beralasan demi menghormati kemuliaan bulan Ramadan dan untuk membela agama (Tuhan). Padahal tidak ada teks yang tegas melarang hal tersebut.
Abdul Mustaqim mengusulkan jalan moderasi, siang Bulan Ramadan tetap boleh buka warung, tetapi gording jendela ditutup atau pintu warung dibuka setengah sehingga tetap menghormati mereka yang sedang berpuasa.