Orangtua yang melakukan Mangaririt biasanya memiliki anak laki-laki yang tengah merantau dan tidak sempat mencari pasangan hidup. Oleh sebab itu, para orangtua Batak akan sibuk mencarikan calon menantu yang sesuai kriteria keluarga agar anak lelakinya bisa langsung menikah ketika pulang kampung.
Untuk memilih calon menantu, kecantikan dan ketampanan tidak berada di urutan nomor satu. Sebaliknya, orangtua Batak lebih mementingkan watak, perilaku, hingga pekerjaan.
Orangtua Batak akan sangat berhati-hati dalam melalui proses ini karena tidak ingin terjadi perceraian di kemudian hari pada pernikahan anak mereka. Dalam adat istiadat Batak, para orangtua merasa memiliki tanggung jawab memberikan nasihat dan pendapat terhadap pernikahan anak-anak mereka.
Maka dari itu, tahap pengenalan yang sangat mendalam akan dilakukan. Tak hanya itu, mereka juga mempertimbangkan pendapat beberapa pihak dalam menentukan calon menantu.
Lantas, bagaimana jika telah memutuskan calon menantu yang tepat?
Dalam tradisi Batak, calon menantu yang telah terpilih akan diberikan tanda, dimana prosesi ini biasa disebut dengan istilah Mangalehon Tanda. Tanda tersebut berupa uang yang diberikan oleh pihak laki-laki dan kain sarung yang diberikan oleh pihak perempuan.
Namun seiring dengan perkembangan zaman, tradisi Mangaririt sudah mulai ditinggalkan. Kini, banyak orangtua Batak yang menyerahkan keputusan memilih pasangan kepada anak-anaknya secara langsung tanpa intervensi apapun.