Kepada masyarakat, Edy berpesan, bahwa tindakan aparat aktif mengajak vaksinasi dan menjaga protokol kesehatan adalah bagian dari tugas dan bukti kepedulian negara atas kondisi rakyatnya. Sebab, tanpa disiplin, pandemi Covid-19 akan sulit ditangani.
“Jangan dianggap mereka (aparat) marah-marah. Aparat ini sayang kepada rakyat, karena virus ini hanya bisa putus jika dilakukan dengan protokol kesehatan, intinya masker (Prokes), jangan pernah tinggalkan,” tambah Gubernur.
Langkah penting lainnya, kata Gubernur, yakni vaksinasi yang terus dikejar hingga ke desa-desa. Meskipun kesannya memaksa, namun semua itu agar imunitas rakyat meningkat, terutama menghadapi Covid-19, sehingga sekalipun harus terkena, tidak menyebabkan sakit parah.
“Untuk itu mari kita sedapat mungkin mengejar ini. Tolong dikejar supaya rakyat kita selamat. Saya tahu kalian capek, tetapi inilah tugas kita,” sebut Gubernur, sembari menyampaikan terima kasih kepada TNI/Polri atas perannya selama ini.
Senada dengan itu, Kapolda Sumut Irjen Pol Panca Putra Simanjuntak mengatakan, kondisi penularan Covid-19 varian Omicron, khususnya di Gunungsitoli lebih tinggi saat ini dibanding Agustus 2021 saat varian delta melanda.
“Untuk Gunungsitoli kasus paling tinggi itu 34 kasus (varian delta). Tetapi untuk sekarang ini, sudah mencapai 37 kasus. Meskipun bedanya 3, tetapi itu berbahaya. Termasuk Nias, dulu 10 kasus, sekarang naik 16 kasus,” terang Panca.
Untuk itu, lanjut Panca, kehadiran mereka ke Kepulauan Nias adalah dalam rangka menjalankan instruksi pemerintah pusat, baik dalam upaya memutus penularan Omicron melalui protokol kesehatan (Prokes) yakni memperketat penggunaan masker, juga mengejar vaksinasi lengkap, terutama bagi Lansia dan anak usia 6-11 tahun.