Masalah lainnya terkait air. Meski Karo menjadi jantung pertanian, sampai hari ini kebanyakan petani masih tergantung dengan hujan. Setiap musim kemarau, petani akan kesulitan air sehingga ini harus menjadi perhatian.
“Seharusnya setiap desa itu mempunyai cekdam. Anggarannya bisa dari APBD maupun dari pusat. Ketika setiap desa punya cekdam, maka air bisa disalurkan melalui pipa ke ladang-ladang petani. Dengan demikian pertanian akan tetap berproduksi tanpa tergantung dengan musim,” kata Arya.
Masalah keenam menyangkut pascapanen. Hingga saat ini, belum ada upaya yang dilakukan petani Karo untuk menjaga harga. “Kebanyakan petani belum berani dengan sistem kontrak. Saat harga turun, petani teriak. Sementara bila harga naik, mereka ingin harga pasar,” ujar Arya.
Arya menambahkan, sistem kontrak merupakan pilihan sulit. “Apakah petani ingin harga stabil atau mengikuti gejolak pasar. Ini kadang-kadang petani lebih berani berjudi dengan harga,” tuturnya.
Dia mencotohkan, kebutuhan wortel di Indonesia cukup besar, sementara daerah Berastagi dan sekitarnya merupakan sentra penghasil wortel yang sangat baik. Banyak mal di Indonesia ingin menjalin kerja sama kontrak dengan petani. Tapi umumnya petani belum mau. “Inilah yang seharusnya perlu diperbaiki dengan melakukan penyadaran-penyadaran terhadap petani,” kata Arya.