Sekilas bentuknya menyerupai alat musik Rebana, namun ukuran Burdah lebih besar. Burdah merupakat alat musik tradisional Sumatera Selatan yang beradal dari Ogan Komering Ulu (OKU), sehingga terkadang disebut Gendang OKU.
Bahan dasar dan cara memainkannya sama saja dengan Rebana dan masih digunakan hingga saat ini pada acara pernikahan dan mengiringi pengajian yang disebut berjanji dan juga lagu-lagu religi.
Alat musik ini awal kemunculannya dibawa oleh warga keturunan Indonesia-Arab yang mengalami akulturasi dengan budaya Indonesia dan berjaya pada tahun 1940 an. Gambus tidak hanya ada di Palembang namun juga berkembang di sejumlah daerah lain seperti Jambi, Aceh, Riau, Sumatera Utara dan Kalimantan Barat.
Gambus dari Palembang terbuat dari kayu dengan dawai berjumlah enam buah. Gambus dimainkan dengan cara dipetik saat mengiringi musik-musik bernuansa Islam.
Alat musik tradisional Sumatera Selatan berikutnya mirip seperti piano karena memiliki tuts hitam dan putih. Alat musik ini sebenarnya adalah hasil penyatuan dari budaya luar negeri.
Memiliki kemiripan dengan piano, namun ukurannya berbeda yakni lebih kecil. Begitu pun cara memainkan, akordeon digantungkan di leher dan pemainnya sambil berjoget mengikuti irama.
Untuk membunyikan akordeon yaitu dengan cara satu tangan berfungsi untuk mengatur nada dan satu tangan yang lain berfungsi untuk mengatur alunan suara. Ada beberapa jenis akordeon di antaranya akordeon berwarna, concertinas, diatonis dan akordeon piano.
Biola yang kamu tau mungkin biola yang berasal dari benua Eropa. Namun Sumatera Selatan ternyata juga memiliki biolanya sendiri. Biola Sumatera Selatan terbuat dari kayu dengan empat senar dan busur.
Cara meianiannya busur digesekkan ke senar sehingga menghasilkan bunyi. Selain itu biola ini juga dihiasi dengan ukiran-ukiran khas Sumatera. Alat musik gesek ini sering digunakan untuk mengiringi lagu-lagu daerah Sumatera Selatan.