Jauhari melanjutkan, berbagai kendala yang ditemukan di lapangan di antaranya area lokasi lahan terbakar sulit diakses karena harus melintasi semak belukar dan sungai.
“Supaya pemadaman maksimal dilakukan maka harus penyiraman dari udara menggunakan helikopter, meski harus dilakukan berhari-hari dan dibom air secara berulang-ulang,” kata dia.
Kendala lain yang ditemukan yakni ketersediaan air yang mulai berkurang, serta angin kencang sehingga api cepat merambat, terutama di area yang materialnya sudah kering seperti ranting pohon dan semak belukar.
Lebih lanjut Jauhari mengatakan, untuk musim kemarau tahun ini, satuan tugas sudah menyiagakan dan menyebar 2.330 personel yang penempatannya di daerah rawan karhutla.
“Jika kebakaran lahan kian meluas, kami pun akan menambah kekuatan,” kata dia.