Lulusan surau inilah yang menjadi pemimpin di nagari. Mereka yang tamat surau masa itu paham dengan agama, mengerti adat dan sangat peka dengan kehidupan sosial. Kalaupun mereka yang bergelar datuk, maka orang juga menyebutnya dengan Ungku Datuk. Itulah kelebihan lulusan surau.
Pengajian-pengajian surau seperti itu, yang dulu bertebar di nagari-nagari, semakin lama jumlahnya makin menciut, dari seribu akhirnya menjadi seratus dan kini barangkali hanya tinggal hanya puluhan di seluruh Minangkabau ini.
Mas,oed Abidin menceritakan asal terbentuknya Surau Baru. Sebab, sebelumnya di daerah sekitar telah berdiri surau tempat mengaji, yaitu Surau Ateh Duyan (durian) atau disebut juga Surau Lurah. Letak tidak jauh dari lokasi Darul Ulum saat ini.
Surau Ateh Duyan diperkirakan aktif beberapa puluh tahun setelah Perang Paderi 1837. Masa itu murid-murid datang ke sini, ada yang berasal dari Taluk Kuantan, Riau dan beberapa daerah di Jambi.
Di awal tahun 1900, gemerlap Surau Ateh Duyan pudua sehingga anak Nagari Padang Magek yang lahir di awal tahun 1900 mencari surau di nagari-nagari lain, sebagai tempat menuntut ilmu.