“Pemilik toko di depan rumah anak saya itu datang ke rumah, pintu rumah saya di gedor. Pak De, rumah galodo gadang (banjir bandang), rumah di ujung habis, saya langsung lari ke sini, ingatan saya anak yang disini,” ucapnya.
Saat mau ke rumah anaknya, dia melihat air di samping rumahnya sudah setinggi tiga meter, namun masih bisa melihat kondisi saat itu karena listrik masih hidup. Tak lama kemudian, lanjut dia listrik padam sehingga suasana gelap gulita.
“Saat saya menjemput anak, namun itu tidak mungkin airnya lebih tinggi dari pada saya,” katanya.
Melihat kondisi air tersebut, tubuhnya gemetar tidak bisa maju karena air cukup tinggi, sementara mau mundur menyelamatkan diri anaknya masih di rumah tersebut.
“Saya tidak bisa mundur membayangi anak dan cucu saya dalam rumah itu. Saya datang sama istri saya, kemudian melihat kondisi itu istri saya pingsan. Kemudian saya mengantarkan istri dulu ke rumah yang lebih tinggi, kemudian saya kembali ke lokasi,” katanya.