Di era sekarang ini, tradisi pengucapan syukur mulai bertransformasi sebagai suatu acara pesta makan yang diadakan di halaman gereja dan di rumah-rumah. Berbagai olahanan makanan dari masyarakat disatukan di meja panjang dan kemudian dimakan bersama termasuk juga tamu yang datang dari jauh.
Hal ini menjadi simbol penegas agar masyarakat desa selalu berbagi berkatnya dengan orang lain.
Setelah acara di gereja selesai, warga kemudian kembali ke rumah untuk bersiap menjamu keluarga ataupun kerabat. Hal yang lebih spesial lagi adalah para tamu yang bahkan tidak dikenal bisa berkunjung dan mencicipi makanan yang telah disediakan tuan rumah.
Acara Pengucapan merupakan suatu kebiasaan adat yang spesial sebab selain mengucapkan syukur kepada Tuhan, namun juga menyimpan makna sebagai hari berkumpul dengan keluarga di kampung halaman.
Tahun ini pengucapan syukur begitu spesial setelah dua tahun terakhir hanya digelar kecil-kecilan karena adanya pandemi Covid-19. Bahkan lebih spesial lagi, acaranya digelar serentak se-Sulut sehingga semua masyarakat turut merayakannya.
Pada dasarnya, hari pengucapan syukur adalah hari untuk mengucap syukur kepada Tuhan yang disimbolkan dengan jamuan makan bersama antara keluarga, kerabat, sahabat dan handai tolan. Semua berpesta dan bergembira ria dalam persaudaraan karena torang samua basudara, torang samua makhluk ciptaan Tuhan.