Namun sekarang, acara Pengucapan dilakukan di gereja dan kemudian dilanjutkan di rumah bersama dengan keluarga dan kerabat.
Dari sisi sejarah masyarakat Toumbulu, pengucapan berasal dari tradisi Foso Rummages. Istilah foso memiliki arti sebagai ritual dan rummages merupakan bahasa tua Minahasa yang berasal dari kata rages, yang berarti persembahan yang diberikan dengan ketulusan hati untuk Tuhan.
Sementara dari masyarakat Toubantik mengenal sistem Poposaden yang berarti gotong-royong. Biasanya keluarga atau kerabat dekat akan pergi bersama-sama memanen hasil kebun tersebut, kemudian hasilnya akan dibagi-bagi kepada keluarga maupun kerabat dekat sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas berkat yang melimpah.
Setelah masuknya pengaruh agama Kristen pada masyarakat Minahasa, maka ritual-ritual sudah tidak lagi dilakukan kebanyakan orang. Namun nilai-nilai ungkapan syukur kepada Tuhan atas hari panen masih melekat sehingga warga desa akan membawa makanan atau hasil pertanian mereka ke geraja, lalu masyarakat akan duduk dan makan bersama.
Seiring berjalannya waktu dan perkembangan, setiap kali suatu wilayah mengadakan pengucapan, maka keluarga ataupun kerabat yang berada jauh di kabupaten atau kota lainnya tetap diajak untuk datang berkunjung untuk merayakan pengucapan.