BRIN: Perubahan Iklim Picu Peningkatan Cuaca Ekstrem di Indonesia

Antara
Peneliti klimatologi dari Pusat Riset Sains dan Teknologi Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin. (Foto: Antara)

 Sementara itu, untuk wilayah Jawa bagian timur, Lombok, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, hujan ekstrem meningkat selama musim kemarau.

 Cuaca ekstrem mengalami eskalasi skala spasial yang semakin luas dan skala temporal yang lebih panjang, sehingga membangkitkan kejadian ekstrem di atmosfer membuat skala dampak yang ditimbulkan menjadi masif dan luas.

 Menurut Erma, terdapat perbedaan antara cuaca ekstrem dan kejadian ekstrem. Cuaca ekstrem biasanya terjadi untuk skala yang lokal di suatu wilayah tertentu dan memiliki durasi kejadian yang singkat, kurang dari sejam atau maksimal sekitar dua hingga tiga jam.

Sementara itu, kejadian ekstrem secara waktu lebih lama, karena memiliki setidaknya dua ciri, yakni persisten atau bertahan lama dan sustain atau terus berlanjut.

Secara skala spasial pun lebih luas karena mengacu pada gangguan cuaca skala sinoptik dalam rentang skala spasial ratusan hingga ribuan kilometer.

Editor : Cahya Sumirat
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Angin Kencang Terjang Pidie Jaya, Belasan Rumah Rusak dan Pohon Tumbang

57 tahun lalu

Update Banjir Bandang di Tanah Datar, 67 Rumah Rusak dan 5 Jembatan Hanyut

57 tahun lalu

Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Resmi Dibuka Kembali usai Tutup 5 Bulan

57 tahun lalu

Cuaca Ekstrem di Cilacap, 17 Rumah Warga Rusak akibat Hujan Deras dan Angin Kencang

57 tahun lalu

Detik-Detik Mencekam Angin Kencang Terjang Ngawi, Puluhan Rumah Rusak

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal