“Ketika bom jatuh, saya akan secara rutin menutupi anak-anak dengan tubuh saya. Tapi saya tahu bahwa saya tidak bisa benar-benar melindunginya, bahwa itu adalah tindakan putus asa," katanya.
Selama lebih dari dua minggu, kota itu telah diserang Rusia. Warga kini hidup tanpa pasokan listrik, gas dan air.
Financial Times melaporkan, pihak berwenang telah mengonfirmasi bahwa 2.400 penduduk kota telah tewas sejak Putin melancarkan invasi besar-besaran pada 24 Februari.
Sementara 400.000 penduduk terpaksa kedinginan di tempat penampungan. Sedangkan yang lain dibiarkan mati-matian berburu bahan makanan padahal bahan peledak meledak di sekitar mereka.
Dmytro yang melarikan diri dari kota itu, mengaku mengunjungi pasar sentral yang menjadi sasaran serangan artileri mematikan. Dia memunguti sayuran yang berserakan di antara puing-puing bangunan.