Namun belakangan, ritual haji di gunung tersebut kembali dilakukan warga sekitar karena dianggap sebagai warisan leluhur.
Ketua MUI Kabupaten Gowa, KH Abu Bakar Paka mengaku baru mendengar kabar ritual haji di Gunung Bawakaraeng kembali viral setelah melihat video yang beredar di media sosial.
“Kami masih menelusuri kebenarannya dan akan berkoordinasi pihak Kecamatan Tinggimoncong untuk mencari kebenaran viralnya haji Gunung Bawakaraeng yang menyesatkan itu,” katanya.
Dia menegaskan, ibadah haji dalam Islam terikat dalam tiga hal yakni, tempat, waktu, dan tata cara. "Di luar itu, tidak sah dan batal," ucapnya.