Tidak mengherankan, wilayah kekuasaan kerajaan ini dijadikan tempat persinggahan pedagang khususnya dari Ternate dan Tidore, yang akan berdagang ke Malaka atau Jawa.
Setelah itu, kerajaan Gowa Tallo memiliki pusat kerajaan di Sombaopu (Makassar) yang lagi-lagi letaknya cukup strategis dan menjadi persinggahan pedangan Maluku.
Hal itu membuat Sombaopu menjadi penghubung antara Malaka, Jawa, dan Maluku. Kerajaan Gowa Tallo telah berhubungan baik dengan Sultan Ternate yang telah memeluk agama Islam.
Pada awal abad ke-17, Raja Gowa- Tallo Daeng Manrabia memeluk agama Islam dan dinobatkan sebagai Sultan Alauddin I. Sejak itu, agama Islam berkembang pesat, dan Makassar menjadi kota kerajaan yang kuat.
Kesultanan Gowa-Tallo mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin atau yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur. Di bawah kekuasaannya, kerajaan ini dikenal sebagai negara maritim yang menjadi pusat perdagangan di Indonesia bagian timur.