Indra mengatakan sebenarnya curah hujan di Luwu Utara pada 13 Juli saat terjadi banjir cenderung rendah. Namun, pada hari-hari sebelumnya curah hujan cenderung tinggi.
“Pada kasus kemarin tanggal 13 Juli, sebenarnya curah hujan yang diamati dari titik pengamatan di permukaan itu tidak tinggi di 13 Juli, berada pada kriteria rendah ya, di bawah 50 mm dalam 10 hari,” katanya.
“Tetapi curah hujan sebelumnya tanggal 12 Juli itu sudah tinggi diatas 50 mm dalam 10 hari. Jadi curah hujan atau banjir di Masamba ini bukan hanya diakibatkan oleh hujan yang turun pada tanggal 13 Juli tetapi juga masih dari hujan yang turun di hari-hari sebelumnya,” paparnya.
Hal ini, kata Indra, sebagian besar wilayah Indonesia khususnya yang bagian selatan ekuator berada pada periode musim kemarau.
“Tentu menjadi pertanyaan bagi kita semua, kenapa pada saat ini ada daerah yang masih curah hujannya tinggi ekstrim bahkan banjir? Bahwa luasnya wilayah kita itu berakibat pada pola cuaca dan iklimnya tidak seragam. Artinya apa walaupun musim kemarau tidak semua daerah Indonesia itu berada pada periode kemarau,” katanya