Ketua Kelompok Tani Hutan Warkesi Alvian Sopuiyo mengatakah, dia dulu juga pernah memburu burung cendrawasih untuk mengawetkan kemudian menjualnya.
"Dulu saya sering memburu burung cendrawasih merah untuk dijual mati, (diawetkan) menggunakan bahan pengawet formalin," katanya.
"Saya sudah tidak ingat dan hitung berapa banyak burung cendrawasih saya tembak mati dengan senapan angin untuk dijual. Namun yang saya ingat, terakhir saya beli formalin 20 liter habis terpakai untuk mengawetkan burung cendrawasih agar bisa dijual," katanya.
Menurut Alvian, satu awetan burung cendrawasih bisa dijual dengan seharga Rp500.000. Nilai yang tidak sedikit bagi dia.
Namun memburu dan menjual burung dilindungi membuat hidup Alvian tidak tenang. Dia selalu merasa dikejar-kejar dan dia sering kali harus bersembunyi untuk menghindari polisi dan petugas balai konservasi.
"Selain itu saya merasa berdosa karena banyak orang berupaya kampanye melindungi cenderawasih untuk anak cucu di masa-masa mendatang, sedangkan saya berburu untuk mendapatkan uang sesaat," katanya.