Pagi hari, tepatnya 26 November 1956 pukul 06.00 WIB, rentetan tembakan memecah kesunyian Kompleks Asrama RPKAD di Batujajar, Bandung. Pasukan Kompi B yang tidak setuju dengan gerakan penculikan mengamuk. Mereka terlibat baku tembak dengan perwira Kompi A.
Tidak berhenti sampai di situ, pasukan yang marah kemudian mencari keberadaan Djaelani, komandannya yang ketika itu berada di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD).
Di sisi lain, Benny Moerdani yang tidak mengetahui persoalan tersebut terkejut ketika langkahnya dihentikan saat hendak masuk ke markas,
“Mau kemana?” kata Sersan Agus Hernoto sambil menodongkan senjata ke wajah Letnan Dua (Letda) Benny Moerdani.
“Lho, ke kantor,” ucap Benny menjawab.
“Lha kalian mau ke mana?” kata Benny bertanya kepada Agus Hernoto.
”Ke Pak Djaelani, dia mengkhianati kita semua,” ucap Agus.
Benny kemudian mengikuti dari belakang rombongan Agus. Saat itu, mantan Panglima ABRI ini menyaksikan sejumlah perwira sudah ditahan dalam sebuah ruangan. Benny satu-satunya perwira yang tidak ditangkap karena semua orang tahu dia selama sebulan sakit.