Tujuh mimpi anak-anak bangsa dari 34 provinsi yang ditulis dan disimpan dalam Kapsul Waktu itu, yakni, pertama, kercerdasan sumber daya manusia (SDM) Indonesia mengungguli bangsa-bangsa lain di dunia. Kedua, masyarakat Indonesia menjunjung tinggi pluralisme, berbudaya, religius, dan menjunjung tinggi nilai-nilai etika.
Tiga, Indonesia sebagai pusat pendidikan, teknologi, dan peradaban dunia. Empat, masyarakat dan aparatur pemerintah kita bebas dari perilaku korupsi. Lima, membangun infrastruktur yang merata di seluruh Indonesia.
Enam, Indonesia sebagai negara yang mandiri dan negara yang paling berpengaruh di Asia Pasifik. Tujuh, Indonesia sebagai barometer pertumbuhan ekonomi dunia.
Presiden mengingatkan bahwa mimpi besar yang diletakkan di Monumen Kapsul Waktu bukanlah pekerjaan satu generasi. Ini juga bukan pekerjaan lima tahun, 10 tahun, ataupun 20 tahun, tapi pekerjaan beberapa generasi.
“Ini pekerjaan besar, artinya selama 70 tahun atau 100 tahun ke depan, semua elemen bangsa harus terus kerja keras. Tidak ada pekerjaan yang instan, tidak ada pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh satu orang atau segelintir orang. Ini kerja bersama,” kata Presiden.
Pekerjaan besar itu, lanjut Presiden, untuk mewujudkan mimpi Indonesia tahun 2085 dan tidak boleh berhenti. “Kita harus berani mengambil pilihan yan sulit untuk bisa bergerak lebih cepat lagi. Kita harus berani melompat, meraih kemajuan. Sekali lagi, Indonesia maju, bukan Indonesia mundur, apalagi Indonesia bubar,” tutur Presiden.
Dalam kegiatan itu, Presiden Jokowi juga didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono. Kemudian, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Gubernur Papua Barat Lukas Enembe, dan Bupati Merauke Frederikus Gebze.