Dikutip dari kemendikbud, prosesi tradisi Bau Nyale diawali dengan diadakannya sangkep wariga, yaitu pertemuan para tokoh adat untuk menentukan hari baik (tanggal 20 bulan 10 pada penanggalan sasak) mengenai kapan saat Nyale ini keluar.
Kemudian, dilanjutkan dengan pepaosan, yaitu pembacaan lontar yang dilakukan oleh para mamik (tokoh adat) sehari sebelum pelaksanaan tradisi Bau Nyale, bertempat di bangunan tradisional dengan tiang empat yang disebut dengan Bale Sakepat.
Pembacaan lontar dilakukan dengan menembangkan beberapa pupuh atau nyanyian tradisional dengan urutan tembang antara lain, Pupuh Asmarandana, Pupuh Sinom, Pupuh Maskumambang dan Pupuh Ginada.
Beberapa bahan yang dipakai dalam prosesi ini antara lain daun sirih, kapur, kembang setaman dengan Sembilan jenis bunga, dua buah gunungan yang berisi jajan tradisional khas Sasak serta buah-buahan lokal.
Pada waktu dini hari sebelum masyarakat mulai turun ke laut untuk menangkap nyale, para tokoh adat akan menggelar upacara adat yang diberi nama Nede Rahayu Hayuning Jagad. prosesi ini para tetua adat Lombok berkumpul dengan posisi melingkar.
Kemudian di tengah-tengah mereka diletakkan jajanan serta buah-buahan yang berbentuk gunungan.
Demikian penjelasan mengenai legenda putri Mandalika dan tradisi Bau Nyale yang berkembang di masyarakat Lombok, NTB.