Masyarakat Suku Buton memiliki bahasa daerah beragam. Hingga kini dapat ditemui lebih dari 30-an bahasa daerah dengan berbagai macam dialek. Wujud akulturasi dalam bidang bahasa, dapat dilihat dari adanya penggunaan bahasa Sansekerta yang dapat ditemukan sampai sekarang dimana bahasa Sansekerta memperkaya perbendaharaan bahasa Buton.
Pada perkembangan selanjutnya bahasa Sansekerta mulai digantikan oleh bahasa Arab seiring masuknya Ajaran Islam di Kerajaan Buton pada abad ke-15 M.
Banyaknya penggunaan bahasa Arab pada kosakata bahasa Buton menunjukkan tingginya pengaruh Islam dalam Kesultanan Buton. Selain itu bahasa Buton juga menyerap unsur-unsur bahasa melayu.
1. Wolio
2. Cia-Cia
3. Pancana
4. Kulisusu
5. Busoa
6. Kaimbulawa
7. Kamaru
8. Binongko
9. Wanci
10. Kaledupa
11. Tomia
Sebelum masuknya pengaruh Hindu ke Buton oleh bangsa Majapahit pada abad ke-13 dan Islam yang dibawah pada abad 15, masyarakat Suku Buton mengenal dan memiliki kepercayaan yaitu pemujaan terhadap roh nenek moyang (animisme dan dinamisme).
Masuknya agama Hindu maupun Islam mendorong masyarakat Suku Buton untuk mulai menganut agama tersebut. Namun, mereka tidak meninggalkan kepercayaan asli, seperti pemujaan terhadap arwah nenek moyang dan dewa-dewa alam.