Umumnya papeda berbentuk seperti bubur, namun ada juga papeda yang memiliki bentuk seperti lontong. Itu biasa dinamai papeda buntel.
Proses pembikinannya seperti papeda biasa. Sesudah masak, papeda dibuntel daun pisang atau daun fotovea (dengan bahasa Sentani disebutkan waibu).
Daun waibu ada di alam dalam dua variasi warna, yakni merah hati dan hijau. Daun pisang dan fotovea berperanan sebagai menambah wewangian, hingga papeda buntel menyebarkan wewangian yang unik.
Biasanya Papeda hanya memiliki rasa yang hambar dan yang menambahkan rasa, yaitu lauk dan sayur yang menemaninya. Seperti nasi uduk yang berbumbu, papeda bisa juga dibumbui. Namun, jika sudah diberi bumbu namanya tidak lagi papeda, tetapi sinole.
Sebelum diolah, tepung sagu dikeringkan terlebih dulu dengan disangrai sampai bernau harum dan lebih ringan. Selanjutnya, sagu diolah dalam kaldu ikan atau kaldu daging yang telah dimasak selama 2-3 hari supaya rasanya intensif, sekalian terus diaduk-aduk sampai mengental.