Cerita Rakyat Lampung, Legenda Ratu Melinting dan Ratu Darah Putih

nanda permata sari
Ilustrasi cerita rakyat Lampung: Legenda Ratu Melinting dan Ratu Darah Putih (Pixabay)

 
Saat menyeberangi Muara Kuala mereka kekurangan bekal. Hanya Kejalo Bidin yang melanjutkan perjalanan mencari ayahnya. Kejalo Ratu tinggal di sebuah pelabuhan.

Sesampainya di Banten, Kejalo Bidin tak mengalami kesulitan untuk mencari ayahnya lantaran Sultan Banten sosok yang terkenal. Namun Sultan Banten tak langsung percaya bahwa Kejalo Bidin adalah anaknya. 

Sang sultan pun memberi syarat pada Kejalo Bidin yaitu untuk tidur di atas daun pisang selama tiga hari tiga malam. Jika daunnya tidak layu maka Kejalo Bidin merupakan anaknya. 

Mendengar hal tersebut, Kejalo Bidin langsung setuju. Setelah tiga hari tiga malam, ternyata daun pisang tersebut tidak layu.

Karena keberaniannya pergi ke Banten, Kejalo Bidin mendapatkan gelar kehormatan dari sang ayah yaitu Minak Kejalo Bidin. Dia juga mendapatkan hadiah berupa peti yang berisi bula-bula (guci dari tanah yang dalam nya merupakan air suci). Bula-bula ini merupakan barang yang sakti.

Kejalo Ratu yang sempat tinggal di pelabuhan pun melanjutkan perjalannya ke Banten. Sultan Banten lagi-lagi tak percaya begitu saja. Dia memberikan syarat bagi Kejalo Ratu. Dia akanmenorehkan pedang ke dahi Kejalo Ratu. Jika benar anak Sultan Banten, maka darah yang keluar adalah berwarna putih dan merah. 

Kejalo Ratu yang mendengar hal tersebut pun tak takut namun bersedia. Sultan Banten menorehkan pedangnya ke dahi Kejalo Ratu dan mengucurlah darah merah bercampur putih. Melihat hal itu, Sultan Banten pun percaya.

Sama halnya dengan Kejalo Bidin, Kejalo Ratu pun mendapat gelar spesial dari ayahnya. Dia juga mendapat kancing lawang luri sebagai hadiah. Kancing lawang luri memang terlihat biasa saja, namun jika Kejalo Ratu membutuhkannya, kancing tersebut akan berubah menjadi keris sakti.

Ketika kembali ke Pugung, keduanya menceritakan semua peristiwa saat bertemu dengan Sultan Banten kepada Ratu Galuh. Sang nenek yang melihat hal tersebut merasa bahwa cucunya memiliki kemampuan untuk memimpin. 

Kemudian Ratu Galuh memberikan kekuasaan pada mereka. Minak Kejalo Bidin memimpin kawasan Melinting, sementara Minak Kejalo Ratu Darah Putih memimpin Kalianda. 

Daerah Minak Kejalo Bidin mendapat sebutan Keratuan Melinting hingga disebut Ratu Melinting. Sedangkan Minak Kejalo Ratu Darah Putih lebih populer dengan sebutan Ratu Darah Putih. 

Ratu Melinting dan Ratu Darah Putih memimpin Keratuan Melinting dan Keratuan Kalianda dengan sangat bijaksana dan adil. Berkat hadiah dari sang ayah yaitu Sultan Banten, mereka bisa mengalahkan serangan dari para musuh yang ingin meruntuhkan kekuasaan mereka.

Itulah cerita rakyat Lampung tentang legenda Ratu Melinting dan Ratu Darah Putih. Dari cerita ini, hal penting yang bisa dipelajari adalah keberanian. Memang keberanian memiliki banyak rintangan, namun dengan keberanian akhirnya beberapa tokoh akan mendapatkan kemenangan. 

Begitu juga hidup. Kita adalah tokoh utama dalam cerita kita saat kita berani dan mampu untuk keluar dari zona nyaman, kita akan mendapatkan kemenangan dan kebahagiaan.

Editor : Reza Yunanto
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Kunker Presiden Prabowo di Lampung Disambut Demo Mahasiswa dengan Aksi Jahit Mulut

57 tahun lalu

Buru Rusa Sambar Pakai Senapan Rakitan, 5 Warga Tanggamus Berakhir di Penjara

57 tahun lalu

Takut Diburu Polisi, Pelaku Penembakan ASN di Metro Lampung Serahkan Diri ke Polisi

57 tahun lalu

Gempa Hari Ini Guncang Tanggamus Lampung, Cek Magnitudonya!

57 tahun lalu

Gempa Hari Ini Guncang Pesisir Barat Lampung, Cek Kekuatan Magnitudonya!

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal