“Kemarin sempat tertahan tidak bisa masuk, tapi terpaksa ikut rapid test dan membayar ratusan ribu rupiah. Jika setiap kali ingin masuk harus bayar, pendapatan kami tentu akan turun drastis. Pihak ekspedisi tidak menjamin pembayaran rapid test, terpaksa uang pribadi,” kata Susanto.
Sementara itu, Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Kalsel, Saut Natan Samosir mengaku telah melayangkan surat kepada Tim Gugus Tugas Covid-19 baik tingkat Kota Banjarmasin maupun Provinsi Kalsel. Surat tersebut berisi permintaan agar dilakukan rapid test massal bagi sopir truk yang mengangkut bahan primer dari Banjarmasin ke Kalteng.
“Jika mereka sudah mengantongi surat dari tim gugus tugas, harusnya tidak dipersulit lagi masuk ke Kalteng," katanya.
Saut menambahkan, penghentian sementara distribusi barang pokok ke Kalteng akan berdampak besar dan menyebabkan harga sembako di Kalteng naik pada beberapa hari kedepan.
“Lebih dari 50 persen barang sembako dikirim dari Banjarmasin ke Palangkaraya. Dalam sehari saja ada 100 truk besar dan 30 truk kontainer yang biasa mengangkut bahan pokok. Bayangkan jika tidak ada pengiriman barang sehari saja, barang jadi langka dan melambung tinggi,” ujarnya.