Candi ini diperkirakan berusia 740 tahun. Batu dan kayu merupakan bahan utama yang digunakan candi tersebut. Kondisinya masih sangat kokoh. Peninggalan sejarah sekitar 200 SM juga ditemukan di candi ini.
Batu yang dipakai untuk mendirikan candi ini pun masih ada. Sepintas, batu itu sangat mirip dengan batu bata merah.
Selain peninggalan yang sifatnya monumental, terdapat peninggalan fisik yang sifatnya artefaktual di antaranya runtuhan bata di kawasan Kuin dan Kayutangi. Kemudian pecahan keramik serta meriam yang tersebar.
Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru serta sejumlah artefak berupa senjata yang digunakan pada saat perang Banjar. Kerajaan Banjar juga memiliki peninggalan non-fisik yang utama, yaitu toponim, berkaitan dengan tokoh atau masyarakat yang mendiami wilayah tersebut.
Toponim sampai sekarang masih ada, yaitu Sungai Jagabaya, Sungai Sigaling, Sungai Pangeran dan lain-lain. Daerah Kayutangi dan Martapura (Kabupaten Banjar) juga memiliki sejumlah toponim yang dikaitkan dengan kondisi masa lalu daerah tersebut, yaitu Kamasan, Dalam Pagar, Gunung Sebuku, Kayutangi, Teluk Selong, Kitanu, dan Akar Bagantung.
Nah, itu peninggalan Kerajaan Banjar yang merupakan bukti, kerajaan tersebut pernah diperintah oleh raja-raja yang jumlahnya banyak.