Tarian daerah ini merupakan bentuk rasa syukur dari masyarakat pada hasil panen yang biasanya juga diikuti oleh masyarakat khususnya muda mudi. Dulu dikatakan jika tari andun bukan hanya merupakan tari pergaulan namun juga untuk mencari jodoh pasangan muda.
Awalnya, tarian campak hanya dipentaskan pada waktu-waktu tertentu, khususnya pada musim panen padi atau saat pulang dari ume (kebun). Namun seiring berjalannya waktu, tari campak memperluas pertunjukannya ke acara-acara penting seperti penyambutan tamu, pesta rakyat, adat pernikahan, dan lainnya.
34 tarian daerah beserta asalnya ini terbilang sangat unik.
Tari cokek memiliki pengaruh budaya Cina yang cukup kental ada di daerah Tangerang. Selain itu, 34 tarian daerah beserta asalnya ini terdapat juga perpaduan budaya Betawi. Dalam pentas tari cokek, tan sio kek, yang merupakan salah satu tuan tanah di Tangerang, mempersembahkan tiga orang penari sebagai wujud partisipasinya dalam pesta rakyat sebagai hiburan pada saat itu.
34 tarian daerah beserta asalnya ditarikan oleh seorang penari wanita memakai tiga masker atau topeng yang sekaligus menunjukan kepribadian masing-masing topeng secara bergantian. Ketiga topeng tersebut adalah topeng Panji (berkarakter lemah lembut dan anggun dengan warna putih sebagai simbol).
Topeng samba (Karakter berwarna merah yang lincah, lincah dan ceria jambu biji sebagai simbol). Topeng Kelana (karakter kuat, kasar dan merah terang melambangkan kemarahan).