Totok menegaskan, meskipun lokasi antara rumah sakit dan mall dipisahkan oleh tembok, anggapan Cito area Covid-19 dapat berakibat fatal. Calon pengunjung otomatis akan memilih mal lain.
Dia menjelaskan, rumah sakit di Cito ini sudah direncakan sejak tahun 2014. Namun, saat itu tidak ada izin dari Pemerintah Kota Surabaya. Jika rumah sakit yang dioperasikan bukan untuk Covid-19, maka para penghuni Mal Cito menyambut dengan suka cita.
"Kami senang sebenarnya kan untuk sosial. Kami malah wellcome saja. Tapi kalau rumah sakit Covid itu yang kami kawatirkan," khawatirnya.
Ratusan anggota P4 berharap operasional rumah sakit khusus Covid-19 di lingkungan Cito Mall tidak diteruskan. Mereka menilai masih banyak tempat lain yang bisa dimanfaatkan untuk menampung pasien suspect Covid-19.
Direktur Siloam Hospital Group, Dr Anang Prayudi sebelumnya mengatakan, optimistis rumah sakit Covid-19 ini dapat memenuhi syarat dan prosedur baik secara medis maupun bangunan. Bahkan, pihak pengelola menargetkan rumah sakit ini jika sudah diizinkan dapat segera beroperasi pada 18 Februari 2021.
"Kami akan mendukung pemerintah kota, kami harapkan kita bisa bekerja sama support pemerintah menyediakan (rumah sakit) ini," kata Anang Prayudi.
Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana bersama Kepala Dinas Kesehatan Surabaya, Febria Rachmanita juga sebelumnya meninjau langsung kesiapan operasional rumah sakit Covid-19 ini. Dia ingin memastikan pembangunan rumah sakit Covid-19 secara prinsip bangunan dan medis sudah sesuai dengan prosedur.