"Para pemain berteriak kok begitu wasitnya. Ada yang bilang ini wasit lulusan mana, harus sekolah wasit lagi. Lalu dengan tetap optimistis, saya terus belajar hingga saya terus membaca buku berjudul Law of Badminton. Buku itu memang segala aturan dan instruksi dalam Bahasa Inggris," ujarnya.
Setelah terus mempelajari bagaimana menjadi wasit yang baik, Lia terus berjuang mengikuti berbagai ujian nasional di berbagai ajang. Seiring perjalanann waktu, Lia semakin melejit dalam dunia perwasitan. Namun begitu, ia tak melupakan kewajibannya menjadi pendidik SD mata pelajaran Bahasa Inggris.
Lia menjelaskan, seluruh ilmu yang diperoleh dari kiprahnya sebagai wasit juga dia implementasikan di sekolah tempatnya mengajar. Dia melatih anak-anak didiknya tersebut agar selalu disiplin, percaya diri dan pantang menyerah karena itu yang menjadi poin penting dalam meraih kesuksesan.
Bagi Lia, ketika mau menerapkan tiga karakter itu, maka akan memudahkan mencapai banyak hal. Karena itu pula, Lia menanamkan karakter tersebut kepada anak didiknya sedini mungkin. Jika ingin berhasil, disiplin harus menjadi nomor satu.
"Saya ajarkan mereka jadi the real bonek, jadi bonek sejati itu bukan kalau kalah main itu sakit hati terus berantem. Tetapi keberanian yang kita butuhkan. Nah bahasa asing itu butuh keberanian karena bahasa itu kebiasaan. Saya ajarkan ke mereka itu 'wani' (berani) berbicara Inggris," katanya.