Sarangan Magetan, Tempat Penampungan yang Menjelma Jadi Surga Dunia Orang Jerman

Solichan Arif
Wilayah Sarangan ditunjuk menjadi lokasi penampungan warga Jerman pasca-Jepang mengambil alih kekuasaan Belanda di Indonesia. (Foto: ANTIK_ story/YouTube)

MAGETAN, iNews.id –  Wilayah Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, dijadikan tempat penampungan warga Jerman di Indonesia pasca-Jepang berhasil mengambil alih kekuasaan kolonial Belanda. Orang-orang Jerman yang tinggal di sana sebagian kaum ibu dan anak-anak. 

“Pada awal 1943, lebih dari 350 warga Jerman, termasuk 175 anak usia sekolah, tiba di Sarangan dari segala penjuru Hindia Belanda,” tulis Horst H. Geerken dalam buku Jejak Hitler di Indonesia, dinukil Sabtu (24/12/2022).

Saat kolonial Belanda berkuasa di Hindia Belanda, para ibu dan anak-anak berkebangsaan Jerman itu menjadi tawanan. Mereka dipaksa menghuni kamp-kamp interniran Belanda.

Saat Jerman menginvasi Belanda pada Mei 1940 dan militer Jepang berhasil mengambil alih kekuasaan Hindia Belanda 1942, nasib mereka berubah. Dalam Perang Dunia II, Jepang merupakan sekutu Rusia dan Italia.

Pemerintah Jerman menekan Tokyo untuk mengurusi ibu dan anak-anak Jerman di Hindia Belanda. Terutama mendidiknya agar menjadi warga yang baik dalam pengabdian kepada Tanah Air.  

Pada akhir 1942, seluruh ibu-ibu beserta anak-anak Jerman itu diperintahkan hijrah ke Sarangan, Magetan. Mereka dikumpulkan di Sarangan. Secara topografi, Sarangan Magetan terletak pada ketinggian 1.400 meter.

Berada di kaki Gunung Lawu setinggi 3.200 meter, pemandangan Sarangan begitu elok dan memikat. Terlihat bukit-bukit yang tertutup hutan tropis. Kemudian panorama aliran lidah lava yang turun menuju lembah.

Ditambah danau Telaga Pasir yang berair bening sekaligus berhawa sejuk dan nyaman. Pada masa kolonial Belanda, Sarangan menjadi tempat peristirahatan para pejabat Belanda.

Di Sarangan, banyak dibangun hotel-hotel kecil untuk keluarga serta wisma-wisma untuk menerima tamu.

"Di akhir 1942, daerah yang tertidur ini (Sarangan Magetan) mendadak berubah aktif dan kehidupan mulai menggeliat. Setelah masa yang kacau, tidak pasti dan dipermalukan oleh Belanda, para perempuan dan anak-anak Jerman seperti tinggal di taman firdaus,” tulis Horst H. Geerken.

Editor : Rizky Agustian
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Dishub Semarang Sebut 2 Faktor Ini jadi Penyebab Kecelakaan Bus Pariwisata di Magetan

57 tahun lalu

Pemkot Semarang Siapkan Trauma Healing bagi Anak-anak Korban Kecelakaan Bus di Magetan

57 tahun lalu

6 Jenazah Warga Manyaran Tiba dari Magetan, Korban Luka Ringan Dirawat di RSWN Semarang

57 tahun lalu

Bus Rombongan Wisatawan asal Semarang Terjun ke Jurang di Sarangan, 7 Tewas Belasan Luka

57 tahun lalu

Miliki 90,10 Gram Ganja, Warga Jerman Ditangkap Polisi di Medan

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal