MALANG, iNews.id - Pergolakan internal terjadi usai Raden Wijaya, pendiri dan raja pertama Kerajaan Majapahitmangkat. Persoalan saat itu, sang raja hanya memiliki satu anak laki-laki dari Dyah Petak yang dianggap sebagai selir.
Raden Wijaya mangkat pada 1231 Saka atau 1309 Masehi. Dia meninggalkan lima orang istri dan tiga anak terdiri atas satu anak laki-laki yakni Jayanagara, dan dua anak perempuan Tribhuwana Tunggadewi dan Dyah Wiyah Rajadewi.
Alhasil ketika Raden Wijaya mangkat, tahta kerajaan jatuh pada Jayanagara yang merupakan anak laki-laki dari Raden Wijaya. Petaka awal pun muncul karena kecemburuan pejabat Kerajaan Majapahit lainnya yang tak memberikan tahta kepadanya.
Ketidakpuasan para pendukung Wangsa Rajasa terutama teman-teman seperjuangan Kertarajasa Jayawardhana atau Raden Wijaya pun muncul. Hal ini sebagaimana dikisahkan pada buku "Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru : Menafsir Ulang Sejarah Majapahit Timur" dari Mansur Hidayat".
Sejumlah pejabat Majapahit ketika itu mengajukan protes dan ketidakpuasan pengangkatan Jayanagara sebagai raja selanjutnya Majapahit.