Penganiayaan terjadi pada Kamis siang. Saat itu, korban tengah mengajar mata pelajaran seni rupa di kelas XI, dengan materi seni lukis. Seluruh siswa tengah sibuk membuat karya sebagaimana instruksi Budi.
Namun, di tengah pelajaran berlangsung siswa MH malah berbuat onar. Dia berbicara dan mengganggu pekerjaan siswa lain dengan mencoret-coret hasil lukisan. “Melihat situasi itu, Pak Budi menegur MH. Tetapi dia malah menjadi. Hasil lukisan teman-temannya dirusak,” katanya, Jumat (2/2/2018).
Hal inilah yang membuat Budi geram. Dia lantas menghampiri MH dan menindak MH dengan mencoretkan pipinya dengan kuas. Rupanya kondisi ini membuat MH naik pitam. Dengan membabi buta dia lantas memukul Budi hingga tersungkur. Beruntung, aksi brutal itu dilerai siswa lainnya.
“Saat itu juga, Pak Budi mengeluh sakit. Akhirnya saya minta istirahat dan pulang. Tak berselang lama, saya mendengar kabar kalau Pak Budi dirujuk ke rumah sakit. Katanya tak sadarkan diri, lantas koma. Makanya tadi malam dirujuk ke RSUD dr Soetomo,” katanya.
Sementara itu, isak tangis terus mengiringi perjalanan Budi dari kamar jenazah RSUD dr Soetomo tadi malam. Sang istri DW yang tengah hamil empat bulan bahkan berkali-kali pingsan. Dia tak kuasa menahan kesedihan, mendapati suami tercinta meninggal dengan cara seperti itu.
“Dia ini orang baik. Bahkan dengan teman-temannya di Surabaya sering komunikasi. Karena itu, kasihan sekali istrinya. Apalagi dia sedang hamil anak pertama,” tutur salah seorang kerabat korban.