Kultus terhadap dewa matahari tampaknya amat populer dalam kehidupan keagamaan Majapahit. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya simbol-simbol yang dapat dihubungkan dengan matahari atau surya. Di antara simbol-simbol surya yang cukup di- kenal yakni 'Surya Majapahit', seperti yang terdapat di Candi-candi Penataran, Candi Rimbi dan Candi Jabung.
Ciri utama Surya Majapahit yakni adanya satu unsur yang selalu berada di tengah sebagai pusat, dikelilingi garis atau sinar berjumlah empat atau kelipatannya.
Wujud Surya Majapahit disusun sesuai arah mata angin atau kosmogoni. Pemujaan Dewa Surya dalam keagamaan Majapahit tampaknya juga dijiwai oleh konsep pemujaan terhadap matahari berkembang, sebelum agama Siwa menjadi agama negara.
Surya Majapahit umumnya menyerupai matahari dengan delapan sinar atau sudut yang mengarah pada mata angin. Bagian tengah lingkaran mengandung pahatan dewa-dewa Hindu, yang seringkali merupakan Dewata Nawa Sangha (Sembilan Dewa). Dewata Nawa Sangha terdiri atas Dewa Siwa di tengah, dan delapan dewa lainnya yang mewakili arah mata angin.
Surya Majapahit dianggap sebagai lambang kerajaan dan memiliki makna keagamaan yang kuat, khususnya terkait dengan kepercayaan Hindu di masa Majapahit.
Lambang ini banyak ditemukan di reruntuhan bangunan-bangunan peninggalan Kerajaan Majapahit.
Simbol ini mungkin terinspirasi dari konsep Dewata Nawa Sangha dalam agama Hindu, di mana Siwa (Dewa Utama) dikelilingi oleh delapan aspek-aspeknya.