Ahmad Fahmi Prakoso, mengatakan munculnya inovasi sarung tangan lateks bermula pada meningkatnya penggunaan sarung tangan tersebut untuk kebutuhan medis. Penggunaan lateks yang pada umumnya berbahan dasar plastik ini dapat mencemari lingkungan tanah dan air laut.
“Apalagi ketika pengelolaannya dilakukan dengan kurang tepat,” katanya, Jumat (12/3/2021).
Fahmi memaparkan, lateks yang kerap dipakai memiliki komposisi zat yang sulit untuk terurai, seperti karet. Tidak hanya itu, lateks juga dapat menyebabkan alergi kulit karena tingginya kandungan protein yang ada di dalamnya. Zat kimia yang menyusunnya pun bersifat toksik.
“Pembuatannya juga menggunakan amonia, sehingga limbahnya dapat merusak lingkungan,” ujarnya.
Berdasarkan hal tersebut, Fahmi beserta anggota tim lainnya menggagas sebuah inovasi terkait penggunaan lateks yang ramah lingkungan. Lateks tersebut memiliki sifat mekanik yang sama, tetapi zat penyusunnya tidak menyebabkan alergi bagi kulit.