Dari sanalah ia akhirnya mengembangkan produknya usai mengikuti pelatihan dari dinas terkait. Ia berinovasi mencoba menambahkan pengawet makanan alami demi menjaga manisan bisa lebih awet. Hal ini didukung upaya dinas terkait di tingkat kabupaten dan provinsi Jawa Timur yang tengah mencari produk unggulan daerah, yang membuat produknya mulai dikenal.
"Tahun 2013 gencarnya mencari produk unggulan daerah mau dimasukkan website-nya dinas untuk dipasarkan. Cukup lama sampai tahun 2018 itu akhirnya baru ada pesanan rutin lagi sehabis masuk salah satu televisi swasta," tuturnya
Endah mengakui tidak mudah memasarkan Kurmo Jowo-nya. Bahkan di tahun 2016 - 2017 usai mengikuti pameran di Surabaya, ia tak mendapat pesanan sama sekali. Namun perlahan tapi pasti mulai 2018, penjualan Kurmo Jowo mulai meningkat. Tetapi sayang ia belum bisa memenuhi pesanan tersebut.
"Saya itu buat Kurmo Jowo untuk mengisi kekosongan, pernah waktu pelatihan diminta jangan cuma dibuat sewaktu nganggur, tapi betul-betul diseriusi untuk bisnis. Tapi saya akui kalau betul-betul bisnis nggak mampu, kalau ini kan hobi, hobi saya masak," kata dia.
Tetapi atas saran dan dorongan beberapa pihak termasuk dari dinas terkait membuatnya mencoba untuk mengembangkan produknya. Hasilnya beberapa produk Kurmo Jowo-nya terjual sampai ke beberapa negara mulai Singapura, Amerika Serikat, Hongkong, hingga Belanda. Selain ke luar negeri, beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bali, Malang, hingga ke Pulau Kalimantan memesan kreasi makanan unik ini.