Dari sanalah ia kemudian terinsipirasi membuat produk olahan tomat sepulangnya ke Bojonegoro. Sejak tahun 1992 itulah ia mencoba-coba mengolah buah tomat dijadikan olahan makanan siap saji. Bersama sang adik ia mencoba membuat manisan dari buah tomat.
"Pengolahan buah tomat ini sama dengan manisan lain, dilubangi, direndam pakai air kapur sirih sehari semalam, dicuci bijinya, setelah bersih ditiriskan, dicampur pakai gula pasir, kita rebus. Kalau sudah diolah warna hijau itu mendekati coklat, yang warna merah hasilnya ya kayak gitu. Jadi menyerupai kurma, kalau kurma itu kan dari Arab Timur Tengah sana, nah ini kan dari Jawa akhirnya dinamakan Kurmo Jowo," ujarnya.
Dikarenakan saat diolah tekstur tomat manisan yang kering itu memunculkan efek warna kecoklatan akhirnya nama Kurmo Jowo diputuskan untuk dijadikan merek olahan produk buah tomatnya. Kini brand Kurmo Jowo itu menjadi merek olahan produk buah manisan rumahan perempuan warga Desa Mojodeso, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro ini. Perempuan berusia 59 tahun ini lantas mulai mengurus PIRT dan selang setahun kemudian izin produknya keluar pada 2010.
"Dulu tidak langsung diterima, sempat ditolak Bravo juga, karena kemasannya yang kurang menarik, karena waktu itu hanya saya kemas dengan plastik dan mika biasa dengan label kertas fotokopi hasil dari design anak saya yang masih duduk di bangku SMP," tuturnya.
Apalagi saat itu olahan buah tomat produksinya dinilai hanya bisa bertahan sebentar. Sehingga ketika ada calon pembeli dari China sempat tak jadi membeli produknya, karena estimasi pengiriman lama dan makanan rawan busuk setibanya di China.