Kisah Tunggul Ametung, Dekati Kaum Brahmana demi Redam Kerusuhan di Tumapel

Avirista Midaada
Peninggala Tumapel di Singosari. (istimewa).

Tunggul Ametung juga menyatakan bahwa bukankah selama ini Lohgawe diizinkan oleh dirinya untuk membuka perguruan untuk mencerdaskan masyarakat. Dirinya, sebagai penguasa Tumapel, bisa saja menutup seluruh perguruan milik kaum brahmana, termasuk milik Lohgawe karena kekuasaan ada di tangannya.

Namun Balakangka, penasihat agamanya, mengatakan bahwa jika perguruan para brahmana itu ditutup maka kaum muda tumapel akan tuna ilmu pengetahuan. Mereka tidak akan bisa membaca atau menulis dan akhirnya mereka tidak bisa mengerti bagaimana caranya membangun peradaban dan memuliakan para Dewa.

Jika hal semacam ini terjadi, maka seluruh masyarakat Tumapel akan merosot keberadaannya menjadi kawanan binatang karena hidupnya tidak dibekali oleh ilmu pengetahuan. Dan kalau semua rakyat sudah menjadi binatang, maka peradaban akan hancur dan musnah, termasuk Tumapel.

Karenanya, berkat nasihat dari patih dan pendetanya, Tunggul Ametung bersedia untuk sowan ke rumah pendeta Lohgawe. Sesampainya di rumah Lohgawe, rombongan Tunggul Ametung pun langsung dipersilakan untuk masuk.

Editor : Ihya Ulumuddin
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Tangis Haru Iringi Pemakaman Jenazah Reno Korban Demo Rusuh Jakarta

57 tahun lalu

Jenazah Reno Korban Demo Rusuh Jakarta Dimakamkan di Surabaya, Ibunda Pingsan

57 tahun lalu

Komnas HAM Datangi Yalimo, Pantau Kondisi Masyarakat Pasca-Kerusuhan

57 tahun lalu

Sempat Disita Polisi, 39 Buku Milik Tersangka Kasus Demo Rusuh Dikembalikan 

57 tahun lalu

Pangdam Cenderawasih dan Kapolda Papua Kunjungi Yalimo, Cek Kondisi Terkini Usai Kerusuhan

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal