Pembangunanya pun dibuat berbeda dengan kawasan perkotaan lainnya di era Belanda. Bila beberapa bangunan yang didirikan Belanda, menghadap ke sudut jalan pintunya. Kawasan Kayutangan dibangun menyesuaikan bentuk jalan memanjang dengan jarak antara jalan dan toko yang dekat.
"Bentuknya gini ngikuti jalan, karena Kayutangan konsep kawasan bisnis perdagangan, tidak bisa menggunakan rumus kawasan perumahan. Kalau Splendid Inn satu kawasan permukiman bisa, harus ada space untuk taman, ada jarak antara jalan dengan titik terluar dari rumah. Jadi biasanya seperti itu, peraturan pemukiman dengan perdagangan lain berbeda," tuturnya.
Berbeda dengan kawasan perdagangan Pecinan di sisi selatan Kota Malang, Kayutangan disebut Reza lebih mengakomodir kepentingan kaum borjuis dan saudagar kaya Eropa. Barang yang dijual pun harganya lebih mahal dan berkelas.
Bila di kawasan Pecinan, beberapa barang seperti sepeda, furniture, permata dijual, di Kayutangan juga menjual barang yang sama tetapi dengan harga dan kualitas yang jauh lebih bagus.
"Kalau Kayutangan relatif lebih banyak yang untuk pasarnya orang Eropa, meski di Pecinan juga ada barang-barang tertentu, jualan barang-barang yang sangat mahal, seperti furniture, permata, tapi di Kayutangan barangnya lebih mahal lagi," tuturnya.