Unsur sebutan “Tangan” dari pohon itu kedapatan dipakai juga sebagai unsur nama desa sekaligus kecamatan di sub-area timur Tulungagung yaitu Rejotangan (rejo-pangan). Di samping itu, areal di samping utara belakang Pasar Wage di Desa Kenayan Kabupaten Tulungagung juga memiliki unsur nama “Tangan” yakni Jotangan (kata “jo” boleh jadi adalah akronim dari rejo).
Dengan demikian, pohon “Kayu Tangan” sebagaimana dikutip dari buku “Potensi Kampung Kayutangan Heritage” amat mungkin pada masa lampau tumbuh di berbagai tempat di Jawa, antara lain di Malang dan Tulungagung. Unsur namanya sering digunakan untuk menamai sebuah desa atau dusun yang bersumber pada nama-nama pohon atau kayu yang banyak tumbuh di areal tersebut.
Dengan kata lain, “Kayu Tangan” pada konteks ini adalah sebuah toponimi, yakni nama yang memberi gambaran ekologis masa lalu pada area bersangkutan.
Sejarawan Universitas Negeri Malang (UM) Reza Hudiyanto menyebut, Kayutangan oleh Belanda dikonsep layaknya kota–kota di Eropa dengan ciri khas yang unik dan berbeda dengan kawasan kota – kota lainnya. Hal ini menjadikan antara etalase toko dengan jalan di Kayutangan cukup dekat.
"Konsep etalase memajang barang yang ada di trotoar, jadi dibuat sedekat mungkin toko itu dengan trotoar, itu seperti di Ho Chi Min city memang dibangun Prancis untuk itu. Ciri khas kota-kota di Eropa jalan trotoar kan sekalian bisa lihat," ucap Reza.