Dia menilai aksi tersebut mungkin saja dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak melakukan tabayun atau klarifikasi hingga menimbulkan hoaks dan fitnah. “Mempirhatinkan, sebab yang menjadi korban adalah rakyat biasa, sementara sebagian elite tidak mau tahu,” ucapnya.
Menurut dia, bentrokan tersebut sangat disesalkan karena dengan cara-cara anarkis anarkistis. Apalagi dilakukan di Bulan Ramadan dapat mencindarai kesucian bulan yang harusnya diisi dengan peringatan Nuzulul Quran. “Aksi demo yang diwarnai kericuhan tidak mencerminkan etika dan akhlak Islam,” katanya.
Dia mengimbau aparat keamanan yang bertugas untuk tetap preventif dengan mengedepankan persuasif, jangan sampai melakukan tindakan anarkistis.
“Aparat melakukan yang benar pun dianggap salah, apalagi melakukan kesahalah, lebih disalahkan lagi. Sebagai aparatur negara harus santun dan sabar, karena rakyat kita butuh pemahaman dan penyadaran,” paparnya.
Kepada elite politik, Masnun mengimbau agar dapat duduk bersama memikirkan kepentingan bangsa, serta solusi bersama-sama menyelesaiakan persoalan bangsa. Para elit harus mampu menunjukkan cara-cara negarawan, menjadi polistisi yang santun.
“Juga menghargari perbedaan, karena pemilu adalah permainan, sedangkan sunnatullah kalah menang itu takdir,” ujarnya.
Semangat negarawan harus dipegang teguh untuk mampu membangun dan menjaga NKRI, sehingga jangan memprovikasi atau mengeluarkan statemen yang bernada provokasi, apalagi mengajak pada tindakan inkonstitusional.