Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Jatim pada 2020, presentase stunting di Jatim mencapai 25,6 persen. Kemudian, pada 2021 menurun 23,5 persen dan di 2022 kembali turun menjadi 19,2 persen. Angka tersebut juga di bawah standar WHO, yaitu di angka 20 persen.
Khofifah mengungkapkan, ada penemuan menarik dari seorang guru besar yang memiliki spesialisasi di bidang gizi. Dia menjelaskan, stunting bukan hanya disebabkan oleh kekurangan nutrisi semata, tapi juga faktor lain di lingkungan keluarga.
"Beliau melakukan survei di salah satu negara di Asia Selatan, di mana di suatu desa rata-rata anaknya tumbuh stunting. Ternyata, problemnya bukan karena semata asupan gizinya yang rendah atau kekurangan protein dan kalori, tapi ternyata kurang kasih sayang dalam pengasuhan," katanya.
Maka, Gubernur Khofifah menegaskan bahwa awal kehidupan bukan dimulai saat kelahiran, namun saat kehamilan. Sehingga, seorang ibu harus mendapat perhatian dan kasih sayang cukup dari pasangan beserta keluarganya.
"Jadi intervensi kita tidak bisa sekadar di pemberian gizi. Tapi juga bagaimana agar sosialisasi parenting di setiap calon keluarga yang akan melakukan pernikahan itu bisa dilakukan dengan lebih seksama," ucapnya.