Sementara Dyah Katarina memiliki pengalaman dalam perumusan kebijakan publik maupun dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi Kota Surabaya pada saat itu. Misalnya, masalah-masalah kemiskinan, banjir, tata kota, dan lain sebagainya.
“Selama ini Bu Dyah dikenal peduli pada isu-isu pendidikan. Diharapkan dia dapat lebih memajukan pendidikan Kota Surabaya ke depan,” katanya.
Selanjutnya, BF Sutadi, yang dikenal sebagai tokoh matang di bidang birokrasi. Sebab, jauh sebelum menjadi politisi, Sutadi menjadi pejabat di Pemkot Surabaya. Terakhir, dia menjabat sebagai asisten I yang membidangi pemerintahan.
“Untuk Adies Kadir, dia ini anggota DPR RI sehingga memiliki banyak pengalaman dalam proses perumusan dan pembuatan kebijakan publik. Apalagi, latar belakangnya sebagai ahli hukum, pasti sangat membantu untuk menata birokrasi dan kebijakan-kebijakan publik di Surabaya,” ujarnya.
Lalu bagaimana dengan Bambang Haryo dan Hesty? Menurut Agus, Bambang Haryo pengusaha yang cukup lama menggeluti bidang kemaritiman. Pengalamannya dinilai cocok untuk memimpin Surabaya sebagai kota industri.