"Uang itu dikasih orang-orang, saya kumpulkan, hasilnya narik becak, saya tabung untuk berobat uangnya Rp3 juta, saya tabung nggak pengen ngerepoti anak-anak. Itu hanyut semua, nggak sempat ambil uang, ambil baju juga nggak, hanya pakai sarung, dan baju. Uang Rp3 juta, alat dapur, kasur, kompor, tape, radio, pakaian, semuanya hanyut," bebernya.
Dirinya menambahkan, rumahnya juga roboh akibat terjangan banjir bandang tersebut. Rumah berukuran 3 x 7 meter itu hancur dan hanyut akibat terjangan material kayu besar berdiameter sekitar 1,5 meter. "Jadi kena pohon rumah saya sehingga rusak. Ketinggiannya hampir tiga meter kemarin disemprot air, ketinggian 3 meter," tuturnya.
Kini bapak tiga anak itu hanya bisa pasrah. Untuk sementara dia kini tinggal di rumah teman-teman dan tetangganya. Dia mengaku belum bisa menghubungi anak-anaknya di luar Kota Malang.
"Anak-anak di luar kota semua, belum ngubungi. Saya di sini sendirian, nggak punya keluarga siapa-siapa. Istri juga nggak ada," tuturnya.
Sementara itu Ketua RT 7 RW 6 Kelurahan Klojen Yuli Asminarsih mengaku juga uang hasil pendapatannya berjualan Rp2 juta juga hanyut terbawa air. "Semua hanyut, kulkas, lemari kecil, berkas, uang-uang, meja belajar isinya, sepatu, seragam hanyut makanya anak saya nggak sekolah dulu, terus uangnya Rp 2 juta, ngungsi tinggal tersisa Rp 12 ribu," katanya.