Relawan dapur umum mayoritas diisi oleh ibu-ibu, salah satunya merupakan Ibu Dariyah yang kerap disapa Bu Dar Mortir. Sematan Mortir tersebut bermula pada proses pengambilan ransum makanan yang terkadang tidak tertib.
Saat itu dia juga melemparkan kunyahan daun sirih dan tembakau kepada para prajurit yang tidak tertib. Kunyahan daun sirih tersebut juga berbentuk bulat seperti mortir.
Bu Dariah juga pernah menukar perhiasannya seberat 100 gram dengan bahan makanan agar kesediaan bahan makanan tetap terjaga bagi para pejuang yang mundur ke Jombang.
Disebutkan juga, komandan Inggris dan Belanda tidak memahami mengapa kaum revolusioner terus mendapatkan pasokan makanan dan air. Pahlawan di balik layar itu ternyata seorang wanita berusia 42 tahun yang dikenal di seluruh Surabaya sebagai Dar Mortir.
Riet merupakan seorang anggota palang merah, sedangkan suaminya, Boenakim seorang komandan pos dekat Pasar Kupang. Saat itu, pasukan tentara Inggris menyerang Banyuurip secara brutal dengan tembakan ke segala arah.