Saat ini, Sutarmin intens memproduksi cetakan atau mold produk untuk sendok, tempat sambal, gagang alat pel, lemari plastik dan berbagai produk lainnya. Ia berharap ke depan bisnisnya tidak hanya menghasilkan produk mold saja. Tetapi juga menghasilkan produk yang siap untuk digunakan oleh end customer.
Perlu diketahui, kedua UMKM manufaktur yang mampu bertahan di tengah pandemi tersebut, merupakan binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) di Solo.
“Tips UMKM tetap eksis di masa pandemi, salah satunya adalah siap memasuki pasar online dengan mengoptimalkan media digital yang ada,” kata Bendahara Pengurus YDBA, Handoko Pranoto.
Seperti yang dilakukan oleh Yanuar maupun Sutarmin. Sejak bergabung menjadi binaan YDBA pada tahun 2019, keduanya aktif dalam mengikuti berbagai program pembinaan. Seperti pelatihan basic mentality, pelatihan dan pendampingan 5R (ringkas, rapi, resik, rawat dan rajin).
Kemudian pelatihan cost calculation, pelatihan dan pendampingan quality control (QC), pelatihan dan pendampingan PPIC (production planning & inventory control), pelatihan & pendampingan TPM (total productive maintenance), pelatihan SOP (standart operating procedure), pelatihan & pendampingan QCC (quality control circle).
Berikutnya pelatihan ToT 5R, pelatihan digital marketing, pelatihan cost accounting and working capital management, pelatihan management capability & engineering capabillity, pelatihan LK3 (lingkungan kesehatan dan keselamatan kerja) dan pelatihan HRD (human resource development).
Keduanya juga mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan perusahaan besar maupun UKM sebagai potensi pasar dalam bisnisnya. Seperti PT Sarandi Karya Nugraha, PT Yogya Presisi Tehnikatama Industri, PT Inti Ganda Pratama dan lainnya. Dalam hal pembiayaan, Yanuar dan Sutarmin juga dijembatani bertemu dengan bank pemerintah untuk mendapatkan akses pembiayaan program kredit usaha rakyat (KUR).