Dia menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya paham radikalisme. Yakni, pemahaman agama yang kurang dan hanya mengambil ayat ayat Alquran yang sesuai dengan tujuannya terutama permasalahan jihad peperangan.
"Kemudian, adanya faktor transnasional tokoh agama yang berhubungan dengan luar negeri dan ajarannya dibawa ke sini. Ada kelompok keturunan garis keras yang dulu bersembunyi di Timur Tengah kembali ke Indonesia, dan setelah itu mereka jadi dosen dan guru guru di tempat pendidikan di Indonesia," kata ulama kharismatik Temanggung ini.
Kiai Hasyim menilai, saat ini media sosial menjadi tempat pergerakan kelompok radikal tersebut dalam menyebarkan pengaruhnya melalui postingan - postingan jihad.
Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Jateng AKBP R Fidelis Purna Timoranto berharap para santri dapat bersatu padu dalam membantu pemerintah terutama dalam menangkal penyebaran paham radikalisme.
"Saya berharap para santriwan dan santriwati membantu pemerintah Indonesia dengan bersatu padu menangkal paham radikalisme ISIS dengan belajar dengan baik sesuai dengan ajaran agama sesuai dengan Alquran dan hadis yang diajarkan oleh para kiai dan ustaz guna menekan bahaya paham radikalisme di Indonesia, apalagi dalam situasi pandemi Covid-19 yang masih melanda Indonesia dan dunia," kata Fidelis.