Selain diskusi, kegiatan tersebut juga disemarakkan dengan peluncuran buku "Mata Air Indonesia Maju; Sebuah Bunga Rampai Gagasan Kepada Cak Imin. Buku yang diinisiasi Rumah Politik Kesejahteraan (RPK) ini ditulis oleh 62 penulis dari Jawa dan luar Jawa.
Dalam kesempatan itu, Ester Yusuf mengatakan pengarusutamaan gender bukan berarti menghadapkan perempuan dan laki-laki. Aktivitas terkait pemberdayaan perempuan harus tetap dalam bingkai kepentingan bangsa dan negara, kesetiaan pada Pancasila, UUD 1945 dan NKRI.
"Literasi hukum adalah hak masyarakat. Sistem di negara kita masih memposisikan perempuan di bawah. Cak Imin harus mengambil gagasan di dalam buku ini. Selain itu juga lebih banyak berbincang dengan masyarakat. Buku tidak hanya dikampanyekan, tapi harus ditindak lanjuti dengan berbagai pihak terkait," kata Ester.
Berbagai gagasan dari peserta juga mengemuka dalam diskusi ini. Mulai dari soal penghapusan outsourcing yang merugikan pekerja, industrialisasi yang tidak ramah lingkungan dan masyarakat, perlindungan terhadap kearifan serta ekonomi lokal dan lain sebagainya.
Sementara itu, Mugiyanto berharap Pemilu 2024, tidak lagi bercorak politik identitas. Namun pertarungan ide, gagasan dan progam. Menurut aktivis 98 ini, Indonesia sudah berdarah-darah dengan politik identitas.